Tampilkan postingan dengan label MINGGU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MINGGU. Tampilkan semua postingan

Jumat, 06 Maret 2015

Kenaikan Kristus dan Kemandirian Injil (Kisah Para Rasul 1:6-11)


Hari ini kita boleh ada dalam sebuah peringatan gerejawi yakni kenaikan Yesus Kristus. Dalam pandangan saya, banyak orang melihat peristiwa ini sebagai peristiwa yang kurang memiliki keistimewaan, dibandingkan dengan Natal dan Paskah. Tetapi berdasarkan bacaan kita tadi, sebenarnya, ada catatan-catatan menarik dan isitimewa yang menjadi inti pesan bagi konteks kehidupan kita di saat ini.
Peristiwa kenaikan Yesus sebenarnya mau menegaskan tentang kemuliaan Yesus, yang diutus Allah untuk melakukan serangkaian hal-hal yang menakjubkan. Mulai dari kelahiran, masa pelayananNya, kesengsaraan dan kematian, serta kebangkitan. KPR 1:6-11 menegaskan bahwa ketika ia terangkat ke sorga, awan menutupinya. Makna awan sebenarnya memiliki ungkapan tentang kemuliaan Allah (bnd Kel. 40:34-38). 
  
Kenaikan Yesus Merupakan sebuah tonggak sejarah baru bagi lahirnya gereja sebagai alat kesaksian untuk melanjutkan misi kristus di Dunia. Ini adalah sebuah titik kemandirian para murid dalam melaksanakan pelayanan. Sebab secara fisik, mereka tidak lagi bersama-sama dengan Yesus. Mereka harus bekerja sendiri untuk mewujudkan damai sejahtera Allah yang telah di alami ketika berpengalaman dengan Yesus sendiri.
Disini para murid ditugaskan untuk menjadi saksiNya, mulai dari Yerusalem, Tanah Yudea, Samaria, sampai ke ujung bumi. Janji Yesus terhadap tugas ini ialah bahwa para murid tidak hanya berjalan dengan kehampaan, tetapi akan memiliki karunia Roh Kudus dalam menjalankan tugas kesaksian itu.
Nah dari gambaran ini, apa yang mestinya menjadi bahan perenungan bagi kita dalam konteks panggilan kita di saat ini dalam kaitan dengan tema merayakan cinta kasih Tuhan yang membebaskan, khususnya dari masalah kebodohan dan keterbelakangan.
Pertama, bicara tentang kemuliaan, banyak dari kita yang sadar maupun tidak sadar melakukan banyak hal untuk mencari kemuliaan diri sendiri. Kita bekerja setiap saat untuk memperoleh banyak uang, supaya kita dipandang sebagai orang kaya yang dengan kekayaan tersebut menjadi ukuran bahwa kita lebih mulia dari orang lain yang berkekurangan. Saya tidak mengatakan bahwa kekayaan itu tidak boleh diupayakan, tetapi, alangkah baiknya jika melalui kekayaan kita, kemuliaan dan kehadiran Allah hadir melalui kepekaan kita untuk melihat keterbelakangan hidup dari saudara-saudara kita yang berkekurangan. Kita dapat menjadi pribadi-pribadi yang peduli terhadap masa depan dari anak-anak yang keluarganya tidak mampu agar mereka dapat melanjutkan sekolah dan memiliki masa depan yang lebih baik.
Kedua, Dalam melanjutkan misi sebagai saksi Kristus, bukan hanya para murid yang dikarunia Roh Kudus. Tetapi kita semua menerima itu dari Allah untuk memampukan kita melakukan karya KasihNya di tengah hidup kita. Tapi kadang-kadang, kita bukan membuka hati kita kepada Roh Kudus, tetapi Roh Kudis. Sebagai contoh, tidak ada Roh Kudus yang menghancurkan, tetapi Roh Kudus yang mempersatukan. Roh Kudus yang menguatkan, bukan memperlemah. Roh Kudus yang menyejukan, bukan membakar emosi. Roh Kudus yang memberi pertolongan bukan roh yang acuh tak acuh, istilahnya siapa kau, siapa aku. Roh Kudus yang menuntun kita sebagai kepala keluarga yang bijaksana dan mengasihi istri dan anak-anak, Roh Kudus adalah roh yang menuntun kita sebagai mahasiswa yang bertanggungjawab terhadap apa yang telah dipercayakan orang tua kepada kita. Roh Kudus bukan Roh yang melayani dengan setengah hati, tetapi sepenuh hati. Roh kudus menuntun para pelayanNya untuk setia, bukan roh malas dalam melayani. Dengan demikian Roh Kudus adalah Roh yang mengarahkan kita kepada kebaikan, kepada kasih, kejujuran dan yang mendobrak kita dari sifat mementingkan diri sendiri.
Gereja yang dipanggil adalah saudara dan saya. Gereja bukanlah kemegahan fisik, tetapi kemegahan Allah yang hidup di tengah saudara dan saya. Kemandirian gereja telah dimulai dan kita akan dimampukan jika kita mengandalkan RohNya diam di dalam kita. Mari kita maknai Yesus dan Karyanya di tengah hidup ini. Ia tidak pernah meninggalkan kita, sebab Roh Kudus yang berasal dari PadaNya, akan selalu ada untuk menyertai saudara dan saya. semoga dalam kekuatan RohNya kita dapat mewujudkan Firman Tuhan ini dalam kehidupan bersama. Amin

Jumat, 27 Februari 2015

Spiritualitas Tahan Uji: Menjaga kekudusan Hidup (Kejadian 39:11-23)


Bapak/ibu/basudara jemaat yang dikasihi oleh Tuhan Yesus Kristus!

Dewasa ini, banyak orang sering mengatakan bahwa kalau mau hidup bahagia, kalau mau hidup senang, kalau mau hidup nikmat, pandai-pandailah untuk memanfaatkan peluang yang ada. Saya kira pernyataan ini tidak salah, tetapi juga mesti diinterpretasi atau diartikan secara hati-hati, sebab tidak semua peluang yang ada di depan mata, itu mampu membawa kita dalam kebahagiaan dan kenikmatan hidup yang sesungguhnya.

Nah Berbicara tentang memanfaatkan peluang untuk mencapai kebahagiaan dan kenikmatan hidup, maka bacaan kita kali ini yang terpilih dari kitab Kejadian 39:11-23 menjadi acuan bagi kita selaku orang-orang percaya, di dalam melihat dan memahami apa yang dimaksud dengan peluang dan kebahagiaan dari sudut pandang iman kristen.

Kisah yang tertuang di dalam teks ini sesungguhnya bukanlah teks yang asing bagi kita, karena sudah seringkali kita baca dan dengarkan. Teks yang menceritakan tentang perjalanan iman dari Yusuf, secara khusus ketika ia berhadapan dengan godaan yang ditawarkan oleh istri potifar ini, merupakan kisah yang di dalamnya mengandung pesan-pesan rohani yang sangat relevan dengan kondisi kenyataan hidup kita di masa kini.

Sebagaimana kita tahu bersama bahwa Yusuf yang adalah si bungsu dari anak-anak Yakub, awalnya dijual oleh saudara-saudaranya karena mereka cemburu terhadap kelebihan-kelebihan yang dimiliki oleh Yusuf. Yusuf kemudian di bawa ke mesir dan melayani di rumah potifar, seorang pegawai di istana Firaun. Ketika Yusuf bekerja disana, segala sesuatu yang dilakukannya berhasil karena Tuhan menyertai dia. Kenapa Tuhan menyertai dia? Penyertaan Tuhan itu ada karena Yusuf memiliki sikap yang baik, sopan dan bertanggung jawab. Atas dasar itulah, Yusuf kemudian diberikan kepercayaan yang lebih besar dari tuannya, potifar. Kepada Yusuf, potifar memberi kuasa atas rumah dan segala miliknya, padahal Yusuf sebenarnya hanyalah seorang budak, yang saat itu Yusuf masih sangat muda. Ia baru berusia 17 tahun. Gambaran ini menunjukan bahwa keberhasilan seseorang tidak ditentukan oleh umur, kedudukan, jabatan dan status sosial. Keberhasilan yang adalah buah berkat dari Tuhan sebenarnya ditentukan oleh sikap dan cara pandang kita di dalam melakukan setiap pekerjaan yang diembankan kepada kita. Maksudnya ialah bahwa siapa yang mau hidupnya diberkati seperti Yusuf, ia harus bekerja dengan sungguh, jujur dan penuh rasa tanggung jawab,

Bercermin dari teks ini, maka ketika merenungi kehidupan ini dan melihat kenyataan yang terjadi, kita akan menemukan bahwa seringkali juga kesungguhan di dalam bekerja ini sering diabaikan di dalam hidup kita selaku orang-orang percaya, baik sebagai pekerja di pemerintahan, swasta, di kantor maupun di pasar, bahkan juga dalam pelayanan.

Bapak/ibu basudara sekalian, terkait dengan hal ini, belakangan ada beberapa jenis penyakit yang muncul dan menggerogoti kehidupan kita selaku orang-orang percaya. Jangan kaget bapak/ibu. Penyakit-penyakit itu bukanlah penyakit yang sesungguhnya, melainkan hanyalah semacam plesetan. Bapak/ibu basudara mau tahu nama-nama dari penyakit-penyakit itu? Mau tahu tidak? Ok saya sebutkan. Yang pertama Kudis, yang merupakan singkatan dari kurang disiplin, kedua, Asma=asal mengisi absen, ke-3.Kram=kurang terampil ke-4. Asam urat=asal sampai uring-uringan atau tiduran yang ke-5. Ginjal=Gaji ingin naik, kerjaan lambat. Yang ke 6. Malaria, nah ini yang paling berbahaya = Masuk lalu ronda cari Alkohol.

Kemarin juga ketika saya memimpin ibadah buka usbu di salah satu kantor pemerintah, pimpinannya mengatakan buat saya, aduh ini anak-anak buah saya yang Kristen, justru yang lebih banyak mengalami krisis panggilan di tempat bekerja.

Jika orang-orang Kristen sudah berada dalam posisi yang demikian. Keberhasilan seperti apa yang hendak ia raih dalam pekerjaannya. Seringkali sebagai orang-orang Kristen, kita lupa bahwa hal-hal yang berkaitan dengan iman itu selalu identik dengan kegiatan-kegiatan ritual dan yang dianggap rohaniah. Orang dikatakan beriman apabila ia rajin beribadah, rajin ke gereja, suka terlibat di dalam kegiatan-kegiatan pelayanan dan seterusnya. Memang benar, orang beriman itu harus rajin beribadah, hidup rohaninya harus baik, tapi ingat, rajin beribadah saja tidak cukup, Kenapa? Sebab jika iman hanya diyakini di dalam ruang-ruang ibadah, tanpa perbuatan nyata sebagai bentuk riil dari iman itu sendiri, maka sebenarnya iman kita hanyalah iman yang mati. Yusuf tidak seperti demikian. Ia adalah orang yang benar-benar beriman kepada Allah, dan imannya itu ia nyatakan secara sungguh di dalam pekerjaannya. Dengan demikian orang-orang percaya harus mencontohi teladan hidup dari Yusuf. Sehingga tidak ada orang yang berdoa minta kekuatan hari minggu di gereja, atau senin pagi di muka meja sombayang lalu kemudian ketika bekerja tidak sungguh-sungguh dan asal-asalan saja. Melalui teladan Yusuf ini juga, kita semua belajar untuk bekerja secara bertanggungjawab & bukan bekerja pancuri tulang.

Selanjutnya, saya yakin kita sekalian punya pengalaman iman bersama dengan Tuhan. Ketika di dalam kesungguhan kita bergumul meminta Tuhan mengaruniakan pekerjaan kepada kita. Kemudian, Tuhan memberikan itu,  kita diperkenankan menjadi seorang pegawai negeri sipil atau pegawai swasta misalnya. Luar biasa, iman kita membuahkan hasil. Ternyata setelah memperoleh pekerjaan, ada banyak diantara kita yang proses berimannya berhenti disini. Ya pergumulan kita sudah dijawab, saya sudah dapat pekerjaan, puji Tuhan. Itu cukup. Padahal semestinya, kalau kita meyakini bahwa pekerjaan ini adalah pemberian dari Allah, maka tentunya pekerjaan ini adalah pekerjaan yang kudus. Sehingga kita mesti mengerjakannya  dengan baik.

Bapak/ibu basudara jemaat yang diberkati Tuhan
Sadarilah bahwa pekerjaan apapun yang sementara kita tekuni adalah berkat Allah dan panggilan bagi hidup kita. Lakukanlah secara sungguh, sebab Tuhan memperhitungkan apa yang kita lakukan. Yusuf adalah bukti nyata bahwa Tuhan akan menyertai setiap orang, Tuhan akan menambahkan berkat dan tanggung jawab yang besar apabila kita setia terhadap tanggung jawab yang kecil, yang Tuhan berikan kepada saudara dan saya, secara khusus di tengah-tengah pekerjaan kita masing-masing.

Pesan kedua yang hendak disampaikan kepada kita di dalam teks ini mengacu pada peristiwa ketika Yusuf digodai oleh istri potifar untuk melakukan perzinahan. Yang menarik disini ialah bagaimana Yusuf mampu mempertahankan imannya kepada Allah di tengah-tengah godaan dan peluang yang begitu besar. Kalau kita baca pada ayat yang ke-11&12, kita akan menemukan dengan jelas bahwa pada saat itu tidak ada seorangpun yang ada di rumah. Seandainya Yusuf mau, perzinahan itu pasti sudah terjadi. Tetapi Yusuf tidak melakukannya. Kenapa Yusuf tidak melakukan itu? Yusuf memahami bahwa hal itu merupakan sebuah kekejian bagi Tuhan. Yusuf tahu dan sadar bahwa memang tidak seorangpun yang melihat kejadian itu, tetapi mata Allah adalah melihat semua yang terjadi. Yusuf memahami Allah sebagai pribadi yang maha tahu, bahkan sampai ke kedalaman hati manusia.

Nah, persoalan inilah yang menjadi titik sentral pemberitaan kita  pagi ini di dalam mengevaluasi kehidupan kita selaku orang-orang percaya. Kenapa saya katakan demikian? Coba kita lihat kenyataan2 yang terjadi dalam hidup ini. Ketika ada banyak orang, termasuk kita sebagai orang-orang percaya yang cepat tergoda dengan berbagai rayuan dunia. Bagaimana tidak, ketika ada peluang-peluang untuk memperkaya diri, yang diprioritaskan hanyalah saya harus kaya, saya harus punya banyak uang, ini kesempatan saya, kapan lagi. Lalu kemudian, anak-anak Tuhan jatuh tersungkur di bawah rayuan dunia ini. Imannya menjadi hancur berantakan, hanya karena peluang yang membawa kepada kebahagiaan yang semu. Di media televisi dan surat kabar misalnya, kita bisa membaca dan mendengar kasus-kasus dimana karena mau kaya mendadak, lalu kemudian terlibat di dalam praktek-praktek yang merugikan Negara. Spekulasi, korupsi dan kolusi menjadi pilihan hidup dibanding mempertahankan iman secara utuh kepada Allah.

Tawaran-tawaran lain juga hadir di dalam hidup kita, dimana orang lebih cenderung untuk melihat togel sebagai peluang untuk memperkaya diri. Kita berpikir apa yang kita buat kan tidak dilihat manusia, jadi tidak ada persoalan. Ataupun pun juga ketika ada tawaran-tawaran dari wanita atau pria yang punya sifat seperti istri potifar, kita mudah sekali jatuh di dalam perselingkuhan. Namun, bukan saja perselingkuhan, sekarang ini, ada informasi bahwa ada kasus-kasus yang muncul dimana orang dewasa menggunakan berbagai cara untuk menggoda anak-anak muda, baik laki-laki maupun perempuan, salah satunya dengan iming-iming uang. Lalu kemudian, anak-anak mudah jatuh di dalam perangkap dosa. Kekudusan bukan lagi menjadi pilihan hidup, melainkan peluang untuk bisa memiliki banyak uang, apapun caranya, itulah yang dikejar.

Di awal khotbah tadi saya katakan bahwa tidak semua peluang itu mampu membawa kita kepada kebahagiaan hidup. Karena itu, kehidupan ini mesti kita sikapi secara bijaksana di dalam kehendak Allah. Kita bisa melihat secara nyata, akibat-akibat dari kehidupan yang diluar kehendak Allah, dimana ketika terlibat di dalam korupsi, ujung-ujungnya penderitaan di dalam penjara, terlibat di dalam togel, bisa dipenjara, bisa juga mengalami kesusahan di dalam kehidupan rumah tangga karena berkat Tuhan tidak mampu dikelola secara bijaksana. Bayangkan saja, kalau sudah ketagihan orang itu bisa pasang togel diatas 10rb perhari, bahkan ada yang berani sampai seratus ribu, padahal pendapatan per harinya itu kecil. Demikian juga ketika Tergoda oleh wanita dan pria idaman lain, maka hancurlah kehidupan rumah tangga dan korbannya adalah anak-anak. Begitu pun juga, anak-anak muda yang cepat tergiur oleh uang, masa depannya kelam, karena berpotensi besar terkena HIV Aids, dan berbagai persoalan lainnya. Inikah yang kita sebut sebagai kebahagiaan? Sudah tentu tidak? Karena itu, terhadap fenomena-fenomena ini, tema mingguan kita “Spiritualitas tahan uji” mengajak saudara dan saya melalui pembacaan kali ini bahwa di tengah-tengah keberadaan hidup yang penuh dengan tawaran dan godaan, carilah kehendak Allah, supaya hidup kita diberkati dan kebahagiaan sejati akan kita miliki.

Pesan terakhir yang hendak disampaikan dari teks ini, memberikan sebuah kesimpulan untuk kita sadari bersama bahwa beriman kepada Allah itu bukan sesuatu yang tanpa resiko. Kenyataan yang dihadapi oleh Yusuf yang difitnah oleh Istri potifar telah menunjukan kepada kita bahwa hidup di dalam kehendak Allah itu membutuhkan kesiapan untuk menerima konsekuensinya sebagai akibat dari iman yang kita pertahankan. Kalau kita ditolak karena tidak mau kompromi dengan korupsi, jangan kaget, kalau kita dikucilkan karena tidak mau melakukan hal-hal yang tidak benar dihadapan Allah, jangan takut, kalau kita hidup pas-pasan, tidak seperti orang lain yang penuh dengan kelimpahan tapi dengan cara yang tidak benar, jangan cemburu, sebab Tuhan itu maha mengetahui kesungguhan kita.

Kisah Yusuf di bagian akhir dan pada pasal2 selanjutnya juga menunjukan kepada kita bahwa, Tuhan akan mengangkat kehidupan setiap orang dari berbagai persoalan yang dihadapi, ketika setiap kita mau secara sungguh menunjukan iman dan kesetiaan kita kepada Allah. Jika kita melakukan segala sesuatu di dalam takut akan Tuhan, saya percaya, apa yang menjadi bagian dari kehidupan Yusuf dibagian akhir dari teks ini, dimana Tuhan menyertai dan melimpahkan kasih setiaNya, melalui kepala penjara, juga akan menjadi bagian menjadi kehidupan saudara dan saya. Tuhan akan membuat segala sesuatu yang kita kerjakan berhasil, apabila kita memiliki iman yang teguh untuk terus berjalan di jalan Tuhan. Amin
  

Selasa, 24 Februari 2015

Kelemahlembutan dan Kerendahan Hati: Syarat Membangun Kualitas Hidup Bersama


Bapak/ibu/saudara/i jemaat yang diberkati Tuhan!
Mengawali perjalanan kehidupan kita minggu pertama bulan februari ini, kita bersama dituntun oleh tema mingguan: Pembinaan hidup yang lemah lembut. Tema ini menarik sebab sangat relevan kenyataan kehidupan kita di masa kini. Berbicara tentang kelemahlembutan, hal ini tentu sudah menjadi barang langka di tengah kehidupan kita. Kenapa saya katakan demikian? Kalau kita amati, di berbagai media ditampilkan ada banyak sekali praktek kekerasan yang terjadi, mulai dari tawuran siswa, tontonan olahraga yang dipenuhi dengan kekerasan, perkelahian antar geng, bahkan kemarin di beberapa tempat di kota Ambon, termasuk di dalam lingkungan jemaat kita, terjadi perkelahian dan saling lempar antar kelompok pemuda. Ini menunjukan bahwa masyarakat kita sudah terbentuk dengan kebiasaan melakukan kekerasan.  

Tidak hanya itu, praktek kekerasan baik secara fisik maupun mental juga sering terjadi dalam kehidupan kita sebagai keluarga-keluarga Kristen. Secara tidak sadar budaya kekerasan juga sering kita terapkan dalam pembinaan keluarga dan lingkungan kita. Nah, salah satu alasan yang biasanya digunakan sebagai dasar untuk melegalkan tindakan kekerasan itu adalah karena, kita berpola pada pemikiran bahwa orang Maluku itu harus dibina dengan kekerasan baru bisa menjadi manusia. Dengan demikian kekerasan ini menjadi sebuah budaya yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.

Namun apakah pembinaan dengan kekerasan adalah cara yang tepat dalam membangun kualitas hidup seseorang? Sebelumnya, disini saya harus membedakan apa itu kekerasan dan apa itu kedisiplinan. Sebab kadang kita berpikir bahwa menerapkan hidup disiplin sama dengan menerapkan pembinaan dengan kekerasan. Jadi kita mesti ingat bahwa kedisiplinan dan kekerasan adalah dua hal yang berbeda. Sebab kedisiplinan bukanlah kekerasan.

Dari pengamatan saya, ada banyak orang tua yang juga keliru dengan hal ini. Kenapa saya katakan demikian? Saya pernah menemukan ada seorang ayah yang memahami bahwa pembinaan tentang kedisiplinan itu harus dilakukan dengan melakukan kekerasan. Sehingga ketika anak berbuat salah, dia dipukul habis-habisan, bagaikan seorang musuh. Selain itu, saya juga melihat ada suami yang ketika istrinya melakukan kekeliruan lalu kemudian melakukan penamparan dan mengeluarkan kata-kata makian, katanya supaya istrinya sadar dan tidak mengulangi kesalahannya. Padahal apa yang terjadi kemudian, anak-anak semakin menjadi pembangkang dan pendendam, mereka terbentuk menjadi anak-anak yang tutur kata dan perbuatannya dipenuhi dengan kekerasan. Bahkan kenyataan membuktikan bahwa ada istri yang karena merasa malu dan tertekan, kemudian mengambil jalan pintas untuk mengakhiri hidupnya, karena merasa tidak tahan dengan kekerasan yang dilakukan oleh suaminya itu. 

Ini adalah fenomena yang terjadi dalam kehidupan kita di masa kini, di dunia yang rentan terjebak dalam praktek-praktek kekerasan. Kenyataan-kenyataan ini menjadi pergumulan kita selaku pribadi, keluarga, persekutuan jemaat dan Gereja Protestan Maluku secara utuh. Sebagai solusi terhadap persoalan ini, bersama kita diterangi oleh bacaan Alkitab dari Galatia 6:1-5. Teks ini diawali dengan sebuah nasihat bahwa jika ada seseorang melakukan pelanggaran, maka kamu yang rohani harus memimpin orang itu ke jalan yang benar, namun dengan kelemahlembutan. Yang dimaksud dengan kamu yang rohani disini adalah orang-orang Kristen/jemaat di Galatia. Kenapa paulus mengatakan hal ini? Paulus menyadari bahwa setiap orang memiliki potensi untuk bisa berbuat baik dan punya keinginan untuk memperbaiki setiap kesalahannya. Karena itu, setiap kesalahan yang dilakukan oleh seseorang, tidak boleh kita pandang sebagai aib yang tidak terampuni. Orang yang melakukan kesalahan bukan sampah yang akan dibuang. Melainkan pribadi yang harus dikembalikan ke jalan yang benar. Karena itu, salah satu cara untuk mewujudkan itu adalah dengan memimpin dalam roh kelemahlembutan. Dengan kelemahlembutan, kita membangun kepercayaan diri dari setiap orang untuk bisa memperbaiki kesalahannya. Sebaliknya kekerasan tidak akan mampu melakukan hal itu, sebab kekerasan hanya akan membuat orang lain ada dalam keterpurukan dan tidak mampu memperbaiki diri. Nah, kehendak Tuhan bagi kita selaku orang percaya adalah dengan memberikan second chance (kesempatan kedua) kepada setiap orang yang pernah melakukan kesalahan, sebab sebagaimana Yehezkiel 18:23 mengatakan bahwa Tuhan berkenan bukan kepada kematian orang fasik tetapi kepada pertobatan yang membawa hidup.

Kita pasti masih ingat, kisah perempuan yang kedapatan berzinah yang diberikan kesempatan kedua oleh Tuhan. Seandainya dia dilempari dengan batu hingga mati, maka tidak akan ada pertobatan baginya. Dengan kelemahlembutan Yesus memberikan kesempatan kedua bagi perempuan itu dengan berkata, Aku pun tidak menghukum engkau, pergilah dan  jangan berbuat dosa lagi dari sekarang.

Nah paulus pun menekankan pentingnya kelemahlembutan dalam mengarahkan kembali mereka yang melakukan pelanggaran, sebab kelemahlembutan adalah salah satu dari buah roh yang memiliki kekuatan untuk mengubah dan membarui hidup. Dengan demikian, ketika kembali dalam hidup bapak/ibu/sdr/I sekalian, mari hiduplah di dalam kelemahlembutan, kepada anak-anak kita yang pernah berbuat salah, kepada istri, kepada saudara dan kepada setiap orang. Saya percaya dalam kelemahlembutan, mereka yang pernah melakukan pelanggaran akan dimenangkan dan memiliki hidup dalam pertobatan. Amin 

Satu hal yang diingatkan oleh Paulus dalam tugas mengembalikan mereka yang pernah melakukan pelanggaran adalah jangan sampai jemaat kena pencobaan. Paulus mengatakan hal ini untuk mengantisipasi jemaat di Galatia agar mereka tidak jatuh ke dalam kesombongan rohani, sehingga memandang diri lebih unggul, lebih baik dari mereka yang pernah melakukan pelanggaran.

Maksud tersirat dari apa yang paulus ungkapkan ini hendak menegaskan bahwa setiap manusia berpotensi melakukan yang baik dan juga berpotensi melakukan yang tidak baik. Karena itu, sebagai orang-orang percaya, orang-orang rohani, kita tidak boleh menganggap diri lebih terhormat hanya karena kita tidak melakukan pelanggaran. Karena itu, ketika kita kembali dan bertemu dengan orang-orang yang pernah melakukan kesalahan, jangan merasa tinggi hati, jangan merasa lebih layak dari mereka. Pembinaan dan kesempatan kedua yang kita berikan, mesti lahir dari sebuah kesadaran bahwa kasih Allah di dalam pengorbanan Kristus, telah lebih dulu memberikan kesempatan kedua bagi saudara dan saya untuk memperbaiki hidup dan memperoleh keselamatan dari padaNya.

Hal ini mesti diwujudkan dalam kehidupan jemaat dengan saling tolong-menolong, menanggung beban seperti yang tertuang pada ayat yang ke-2. Beban yang dimaksudkan disini berasal dari bahasa yunani, baros, yang berarti hasil dari kelemahan dan dosa. Jadi dalam hidup kita sebagai orang percaya dalam keluarga dan dalam konteks berjemaat, kita mesti saling membangun, saling memberikan motivasi dan dorongan untuk berbalik dari kesalahan dan bisa menjadi lebih baik, sebab setiap kita sesungguhnya tidaklah sempurna. Kita masing-masing memiliki kelemahan. Yang terpenting adalah bagaimana kita saling mengisi dan saling melengkapi agar hidup kita semakin berkenan kepada Tuhan dan bukan untuk menganggap diri lebih berarti dari orang lain, sebab hal itu adalah penipuan kepada diri sendiri, seperti yang tertuang pada ayat ke-3.

Selanjutnya  pada ayat ke-4 disampaikan tentang bagaimana seharusnya orang percaya menguji pekerjaannya dan bukan melihat keadaan orang lain.  Kadang secara tidak sadar, kita tidak melihat dan mengevaluasi apa yang sudah kita lakukan. Justru kita lebih cenderung membandingkan keberadaan kita dengan orang lain ditengah kekurangan mereka. Nah, pada ayat yang ke-4 ini, kita diingatkan agar setiap tindakan kita itu mesti diuji. Maksud dari pengujian itu adalah supaya kita menemukan apa latar belakang, apa motivasi kita dalam melakukan sesuatu. Kenapa? Kadang apa yang kita lakukan itu tidak dilatarbelakangi dengan kemurnian hati. Kadang motivasi kita adalah supaya kita memperoleh balasan dan keuntungan. Kebaikan dan tindakan kita punya tujuan untuk kepentingan diri. Misalnya kita melakukan kebaikan dengan dasar supaya Tuhan membalas itu, atau supaya orang juga melakukan yang baik kepada saya. Kadang kelemahlembutan yang ditampilkan tidak lahir dari ketulusan, tetapi untuk memperoleh simpati dan perhatian. Saya ingat kata seorang ustad yang mengatakan begini, apa arti dari sebuah kebaikan, jika kebaikan itu dilakukan untuk menuntut balas. Ingat bahwa dasar bagi kita dalam melakukan sesuatu yang baik merupakan respons kita terhadap kebaikan Tuhan yang telah lebih dulu dinyatakan dalam kehidupan kita. Pada waktunya, segala sesuatu yang kita lakukan akan kita pertanggungjawabkan nanti. Percayalah, ketika kita melakukannya dalam kesungguhan dan ketulusan, segala sesuatu yang kita buat itu tidaklah sia-sia. Tuhan memberkati kita sekalian dalam mewujudnyatakan firman ini. Amin

Perang Melawan Keserakahan

Bapak/ibu/basudara jemaat yang diberkati Tuhan
Di masa modern seperti sekarang ini, ada dua hal yang cenderung menjadi primadona bagi banyak orang. Yang pertama adalah, posisi atau jabatan yang dihormati dan yang kedua adalah uang. Kenapa dua hal ini cenderung menjadi prioritas hidup manusia? Karena pada umumnya, ada anggapan bahwa dengan jabatan dan posisi yang dihormati, kita dapat mengatur segalanya sesuai keinginan kita, kita menjadi orang-orang yang disegani, dan ketika memiliki banyak uang maka segala persoalan dapat teratasi. Punya banyak uang, bisa beli apa saja dan kemana saja. Kedua hal ini seakan menjadi jaminan bagi setiap orang untuk memperoleh kebahagiaan di dalam hidup. 

Namun jika kita melihat ke dari realitas hidup kita, maka disitu kita juga menemukan bahwa justru oleh karena jabatan dan uang, banyak orang mengalami kehancuran hidup. Kenapa hal ini bisa terjadi sdr2 jemaat? Kehancuran seperti ini dengan mudah menghinggapi kehidupan manusia,  oleh karena jabatan dan uang telah menjadi tujuan hidup dan bukan menjadi alat/sarana untuk menyatakan arti hidup. Berbagai kasus korupsi dan penyalahgunaan jabatan di negara kita merupakan bukti nyata bahwa jabatan dan uang bisa menjadi senjata yang dapat menghancurkan kehidupan banyak orang, bahkan diri kita sendiri. Lalu apakah dengan demikian uang dan jabatan itu harus dihindari? Tentu tidak? Kesalahannya tidak terletak pada uang dan jabatan itu, melainkan karena pemaknaan hidup tentang kedua hal tersebut. Sumber dari kehancuran itu sesungguhnya diakibatkan oleh karena keserakahan hidup manusia.  Serakah dalam kamus bahasa Indonesia memiliki pengertian selalu hendak memiliki lebih dari yang dimiliki. Kata ini sejajar dengan pengertian dari kata rakus, loba dan tamak. Dalam bahasa ambonnya, disebut galojo.

Nah, terhadap kenyataan ini, Gereja Protestan Maluku melalui Lembaga Pembinaan Jemaat hendak memberikan tuntunan bagi kehidupan umat dan pelayan di GPM dalam memaknai dan merefleksikan panggilannya melalui tema mingguan kita kali ini: Pendidikan Melawan Keserakahan, dengan mengacu pada Teks 1 Tim 6:2b-10 dan Amsal 15:16 yang baru saja kita baca dan dengarkan bersama. 

Untuk menemukan pesan dari teks 1 Tim 6:2b-10, kita perlu mengetahui dulu, apa yang melatarbelakangi paulus menulis suratnya kepada Timotius. Surat paulus kepada Timotius merupakan salah satu surat pastoral yang ditujukan untuk membentengi kehidupan Timotius sebagai seorang pemberita Injil yang pada saat itu sementara berada di Jemaat Efesus. Mengapa demikian? Dalam surat paulus ini, ia hendak memperingatkan Timotius mengenai beberapa pemimpin rohani yang memandang pelayanan Kristen sebagai suatu cara yang dapat digunakan untuk menjadi kaya. Para guru palsu itu ingin bekerja sebagai ahli kesalehan hanya untuk memenuhi saku–saku mereka dengan uang. Mereka begitu lihai dalam mempengaruhi banyak orang dengan kemampuan merangkai kata-kata indah, menggunakan pemikiran-pemikiran yang nampaknya logis dan menyenangkan sehingga para pendengarnya terkesima, dan karena penyampaian-penyampaian yang kelihatan spektakuler itu, kemudian mereka menjadikannya sebagai lahan menguntungkan diri sendiri. Saya sendiri melihat bahwa teks ini sebenarnya ditujukan kepada kita sebagai para pelayan untuk menjadi bahan peringatan supaya kita tidak salah menggunakan jabatan-jabatan tersebut sehingga  menjadikannya sebagai peluang untuk memperoleh keuntungan pribadi. 

Nah, yang jadi pertanyaannya adalah, kalau teks ini ditujukan untuk mengingatkan Timotius dan setiap orang yang terpanggil sebagai pelayan ditengah-tengah jemaat, lalu apa sebenarnya relevansi teks ini bagi kehidupan kita selaku jemaat yang hadir dan beribadah di pagi ini. 

Menarik sekali pertanyaan ini. Sebenarnya yang ingin ditekankan dalam teks ini tidak saja kepada soal jabatan gerejawi yang melekat pada kita, melainkan juga bagaimana pemaknaan terhadap identitas kita sebagai orang-orang percaya yang diberi mandat untuk melakukan pemberitaan Injil secara benar, sehingga kita tidak jatuh ke dalam bentuk kejahatan yang disebabkan karena cinta uang. Perlu kita ketahui bahwa pemberitaan Injil adalah pemberitaan tentang kabar baik yang mendatangkan damai sejahtera kepada semua orang. Bentuk pemberitaan injil itu sebenarnya tidak hanya dalam bentuk verbal, ketika kita berperan sebagai pendeta, MJ, coordinator unit, dalam menyampaikan firman Tuhan di dalam ibadah-ibadah. Pemberitaan Injil yang benar, tidak hanya sebatas ucapan saja, melainkan juga di dalam sikap dan perbuatan kita. 

Sebagai contoh, saya tahu setiap pengusaha membutuhkan keuntungan, tapi ingat jangan sampai karena ingin menguasai semuanya, lalu orang kecil yang su jual pulsa dari lama misalnya, katong potong pele dong pung usaha lai. Atau ketika ada diantara kita yang jual minyak tanah, dengar kata harga BBM mo nai, karena cinta uang labe dari sesama, timbun minyak2 tanah, orang cari bilang seng ada, lalu di kemudian hari saat harga su nai, stock lama jual deng harga baru, supaya dapa untung basar. Di sebuah TV saya juga pernah menonton sebuah acara ketika seorang penjual yang tidak mau rugi menggunakan borax pada jualannya, atau juga pedagang ikan yang menggunakan formalin supaya ikannya bisa bertahan lama, sehingga dia tidak rugi. Kadang juga secara tidak sadar, oleh karena cinta uang, kita melakukan fitnah, Bacarita orang seakan orang itu salah, padahal ia tidak pernah salah, hanya karena cinta uang, atau bahkan mengadu domba satu dengan yang lain demi uang. Apakah bentuk-bentuk seperti hidup seperiti ini adalah hidup yang mencerminkan pemberitaan Injil? Tentu tidak, sebab Injil selalu membawa sukacita, kedamaian, bagi setiap orang, bukan dukacita dan perpecahan. 

Pertanyaannya mengapa praktek2 hidup seperti ini bisa terjadi dalam kehidupan kita? Jawabannya adalah karena kita tidak belajar untuk mensyukuri apa yang ada pada kita. Memang, berusaha supaya hidup ini lebih baik tidak ada salahnya. Tetapi semuanya harus dilandasi dengan rasa syukur dengan apa yang dimiliki itu, supaya apa? Supaya hidup kita tidak diperbudak oleh materi. Orang yang bersyukur atas apa yang ada padanya dia akan selalu merasa berkecukupan, sementara yang tidak pernah bersyukur, dia akan selalu merasa berkekurangan, karena itulah, dia akan cenderung dikendalikan oleh materi, dan bukan mengendalikan materi,. Disinilah penyembahan berhala secara tidak langsung terjadi, dan Tuhan menentang hal ini. Basudara jemaat, mari kita renungkan apa yang dikatakan paulus. Katong datang ka dunia seng bawa apa2, dan kembali juga tidak membawa apa2. Itu berarti bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini seng kekal. Apa artinya kita memiliki banyak harta, jika harta itu tidak memberi arti dalam hidup. Toh ketika kita meninggal, semuanya itu tidak kita bawa serta. 

Dalam ayat 8, Paulus menjelaskan bahwa asal kita memiliki makanan dan pakaian, biarlah kita merasa sudah cukup. Kata asli yang ia gunakan untuk “pakaian” tidak hanya berarti baju yang kita pakai, tetapi juga “atap” (rumah) yang ada di atas kepala kita. Jadi, orang percaya harus bersyukur atas yang paling mendasar bagi kehidupan jasmani kita. 
Hal ini tidak berarti bahwa orang percaya dilarang kaya, tetapi ketika apa yang mendasar bagi jasmaninya telah dimiliki maka dia mesti mensyukuri itu. Dengan bersyukur maka kita akan merasa tercukupkan, dan ketika merasa cukup kita tidak akan segan untuk menjadikan apa yang lebih dari pada kebutuhan dasar kita, untuk menjadi sarana berkat bagi orang lain yang berkekurangan. Disinilah kehidupan kita dengan segala berkat yang ada menjadi berarti. Inilah sesungguhnya bentuk pemberitaan yang sejati. 

Nah, pesan yang hendak disampaikan kepada kita selaku gereja dalam kaitan dengan itu adalah, mari kita belajar bersyukur dengan apa yang pada kita sehingga kita bisa menempatkan apa yang lebih dari pada kebutuhan mendasar kita, supaya itu dapat menjadi berkat bagi banyak orang, yang masih jauh dari kebutuhan mendasar. Mari kita menjadi umat dan pelayan yang tidak hanya memikirkan apa yang menyenangkan bagi kita, tetapi belajar untuk menghadirkan kebahagiaan di tengah kehidupan para janda yang berkekurangan, anak-anak yang putus sekolah karena tidak punya biaya, mereka yang terpaksa tinggal menahan sakit di rumah karena tidak mampu ke rumah sakit. Saya sendiri merenungkan bahwa sebagai gereja, kita mesti belajar bersyukur tentang hidup ini, supaya berkat-berkat Tuhan itu tidak disalahgunakan dan disalahartikan. 

Saya adalah salah seorang yang sangat tertarik dengan kisah persembahan janda yang miskin, yang memberi dari kekurangannya. Gereja selama ini mengagungkan sikap janda ini, tetapi seringkali gereja lupa untuk bertanya mengapa janda miskin ini harus memberi dari kekurangannnya. Apakah orang-orang disekitar saat itu, telah dibutakan oleh kesenangan pribadi dan lupa bersyukur dengan apa yang ada padanya sehingga mereka boleh memberi dengan kelimpahan kepada Tuhan tetapi hidup bersama dengan janda yang berkekurangan. Sehingga menjadi sesuatu yang miris, ketika kita berkata puji Tuhan, haleluya, sebab Tuhan baik, sementara disitu kita beribadah bersama dengan saudara yang hidup berkekurangan tapi kita seakan tidak rela jika sebagian kecil dari yang kita miliki, diberikan untuk membantu mereka. Karena apa? Kita terlalu mencintai materi dan takut kehilangan sesuatu yang sifatnya tidak kekal. 

Selanjutnya pada ayat yang ke 9, disitu kita menemukan peringatan paulus yang sangat keras. Cinta akan uang dan keinginan untuk menjadi lebih kaya menyebabkan banyak kesenangan lain yang bodoh dan yang menenggelamkan atau menghanyutkan orang ke dalam kehancuran. Kata-kata ini mengingatkan saya pada sebuah ilustrasi. Di beberapa negara, monyet ditangkap dengan memasukkan umpan nasi ke dalam sebuah wadah. Hanya ada sebuah lubang kecil yang supaya monyet ini dapat memasukan tangannya. Ketika si monyet memasukkan tangannya ke dalam wadah tersebut dan mengambil nasi yang terdapat di dalamnya, kepalan tangannya tidak dapat ditarik keluar. Karena si monyet sungguh-sungguh tidak mau melepaskan nasi itu, ia terjebak karena kerakusannya! Pesan dari ilustrasi ini hendak mengingatkan kita bahwa seringkali orang karena ketamakannya berlaku seperti monyet ini, enggan melepaskan diri dari cinta uang, sehingga menyebabkan kita terperangkap dalam kesusahan. Karena itu lebih lanjut paulus menyatakan di dalam ayat ke 10. “Sebab akar segala kejahatan adalah cinta akan uang. Maka, ada orang yang karena itu telah menyimpang dari iman dan telah menyiksa dirinya sendiri dengan berbagai kesusahan.

Sebagai contoh, ada banyak orang cinta akan uang lalu melakukan kebohongan. Cinta akan uang menyebabkan orang menjadi penipu atau pelanggar hukum, menjadi pencuri, bahkan menjadi pembunuh. Cinta akan uang dapat menghancurkan pernikahan, keluarga, dan mengacaubalaukan kehidupan anak–anak. Cinta akan uang menghancurkan relasi hidup ade kaka. Cinta akan uang menciptakan perpecahan antar rekan kerja, dsb.  Cinta akan uang menimbulkan gangguan secara emosional, dia akan gelisah karena takut kehilangan semua uangnya, apalagi jika semua uang itu diperoleh tidak dengan cara yang benar. Karena itu, benarlah apa yang dikatakan oleh bacaan kita yang kedua, Amsal 15:16, lebih baik sedikit harta dengan takut akan Allah daripada banyak harta dengan disertai kecemasan. Artinya lebe baik yang katong bawa pulang voor keluarga biar akang sadiki, tapi hasil kerja keras, dengan kejujuran dan takut Tuhan dari pada banyak dari sesuatu yang tidak benar. Sebab bagaimanapun juga, kita akan didakwa oleh hati nurani kita, sehingga kita tidak memperoleh ketenangan batin. 

Mengakhiri khotbah ini, ada sebuah kisah inspiratif, sebuah kisah nyata dari kehidupan seorang dokter yang bernama Lie A. Dharmawan, seorang dokter yang berusia sekitar 70 tahun mendirikan Rumah Sakit Apung (RSA) untuk melayani masyarakat yang tidak terjangkau oleh layanan medis. Rumah Sakit Apung milik dr. Lie hanyalah sebuah kapal sederhana yang terbuat dari kayu, yang di dalamnya disekat-sekat menjadi bilik-bilik yang diperuntukkan untuk merawat pasien-pasien inap ataupun pasien-pasien pasca operasi. Oleh banyak orang dr. Lie dianggap sebagai dokter gila, karena keberaniannya menggunakan kapal kayu mengarungi pelosok negeri ini untuk membantu saudara-saudara kita yang kurang mampu tetapi memerlukan pelayanan kesehatan segera.

Dalam perjalanannya dengan Rumah Sakit Apung, dr. Lie telah melakukan sebanyak 60 kali operasi mayor dan 117 kali bedah minor dan telah merawat 1.630 pasien umum. Dengan catatan bahwa apa yang telah dilakukan oleh dr. Lie dan teamnya, tidak mendapat bayaran.
Latar belakang dr. Lie A. Dharmawan yang berasal dari keluarga kurang mampu, anak ke-4 dari 7 bersaudara ini telah ditinggal almarhum ayahnya pada usia 10 tahun. Dengan keluarga besar, serta ditinggal tulang punggung keluarga membuat ibu dari dr. Lie harus berusaha menghidupi keluarganya dengan melakukan pekerjaan apa saja, sampai-sampai mendapatkan upah cuci pun dilakukan oleh ibu dr. Lie. Untuk mencapai cita-cita menjadi dokter, tidaklah mudah bagi seorang Lie yang berasal dari keluarga kurang mampu. Bahkan ketika dia mengutarakan keinginannya untuk menjadi seorang dokter, dr. Lie sempat ditertawakan. Bagaimana mungkin seorang anak miskin dapat menjadi seorang dokter? Karena semua orang tahu bahwa menjadi seorang dokter harus mengeluarkan uang yang tidak sedikit. Tetapi kemiskinan bukanlah halangan bagi seorang dr. Lie, setelah ditolak untuk kuliah di beberapa perguruan tinggi, akhirnya dr. Lie mendapatkan tawaran untuk sekolah dokter di Jerman. Walaupun gratis, tetapi untuk berangkat ke sana tidaklah mudah. Dr. Lie harus menabung bersama saudaranya agar dapat berangkat ke sana.

Karena sangat cintanya dengan tanah air, walaupun dia bisa mendapatkan fasilitas dan pekerjaan yang menjanjikan, serta harta harta berlimpah di Jerman. Dr. Lie tetap pulang ke Indonesia, setelah menetap selama 18 tahun di Jerman. Luar biasa dia mengabdikan dirinya untuk melayani sesama. Ia tidak pernah mempedulikan soal bayaran, apalagi sampai menjadi hamba uang. Apa alasannya?  

Selain dari latar belakang dari keluarga yang tidak mampu, yang tahu merasakan apa arti kekurangan, ada satu hal menarik yang melatar belakangi dokter lie melakukan semuanya itu. Dia selalu mengingat akan pesan ibunya "Kalau kamu jadi dokter, jangan memeras orang kecil. "Mereka bisa membayar kamu, tetapi ketika sampai di rumah mereka akan menangis, karena mereka tidak mampu lagi untuk membeli beras".  

Nah, terkait dengan tema mingguan kita pendidikan melawan keserakahan, maka saya kira pesan ibu dokter lie ini harus menjadi pesan yang kita teruskan kepada anak-anak kita, supaya mereka tidak menjadi hamba uang, jauh dari keserakahan dan mampu pribadi-pribadi yang mendedikasikan hidupnya untuk melayani sesama lewat segala berkat yang Tuhan berikan, apapun itu. Saya percaya, disitu kita akan mengalami kebahagiaan yang lebih dari pada memiliki segudang harta duniawi. Kiranya kita semua dimampukan untuk mewujudnyatakan hidup untuk menjadi saluran berkat bagi banyak orang, lewat berbagai berkat yang Tuhan anugerah. Tuhan memberkati. Amin